Minggu, 19 November 2023

Rasa, Asa, bak Rekayasa

 Rasa, Asa, bak Rekayasa

Oleh: Van Bora Simatupang


Pipi bersemu merah

Kata manis terlontar, tanpa pernah marah

Bagai sepasang sepatu yang selalu searah

Namun pupus berujung pasrah


Kupikir cinta sejati

Ternyata beri belati

Kasihnya hanya setengah hati

Luluh lantak, porak poranda, namun dirinya tanpa empati


Tergerogoti asa ku

Dilucuti fakta yang mendentum tanpa babibu

Rasaku menguap, terbang dan mengabu

Menghilang diantara langit merah jambu


Kini kuingin lupa ingatan

Membuang segala pikir irasional

Kata mereka cinta tak mudah berhenti

Dusta! Aku bahkan tak perlu berusaha


Pergilah! Bukan hanya sejauh ku memandang

Juga dari dalam sini, yang kusebut hati

Meski hanya sekedar benci, tak perlu lagi

Atas izin semesta, ikhlasku kuamini

Warasku Terkoyak

 Waras ku Terkoyak

oleh: Van Bora Simatupang


Setengah berlari kubawa kaki melangkah

Menapaki jalanan terjal dengan jurang disisi kiri

Tanpa alas, bertelanjang kaki kutembus pekatnya malam

Tanpa suara, hanya sunyi yang mencekam


Sejenak aku berhenti

Menoleh kebawah, telapak yang berdarah

Goresan kerikil kecil bermata tajam

Tak lagi terasa perih, aku mati rasa


Kulirik jurang disampingku

Andai kujatuhkan diri ini kesana, 

Kan apa yang terjadi esok? 

Akhir hidup bahagia atau penantian nestapa neraka


Aku lelah. Sangat! 

Menimbang nimbang memilih jalan yang mana

Mahkluk kecil diperut seakan mengerti

Dia bergerak, menggelitik didalam sana


Ada haru yang menyeruak

Juga pedih menusuk kalbu

Ah, peduli apa aku kata orang

Janin ini punya nyawa

Dia berhak tumbuh dan melihat dunia


Ayo pulang nak, 

Kan ku besarkan kau meski dibalut lara

Kelak kan ku perdengarkan cerita

Tentangmu yang kubekali miliaran do'a