Senin, 01 Februari 2016

Mahasiswa atau Kaum Individualis ORBA



 


Sebongkah pertanyaan terngiang dalam pikiran
Beberapa tanya yang sebenarnya masih mengambang
Pikir demi pikir terselubung melingkupi jiwa
Mengembara bebas di depan pelupuk mata
            Diri ini masih asyik dengan tanya nya
            Saat senja pun semakin membayang
            Redup yang kian kelam menyelimuti
            Dan mentari kembali ke singgasana nya
Namun tetap saja,
Diri ini masih teguh dengan tanya itu
Disaat semua keegoisan semakin membara,
menyeruak, berkobar dan bergelora

Dalam diam ku merutuk memberontak
 Jelas sekali aku menahan amarah
            Sadarkah mereka, bahwa itu semua ego belaka
            Memukul mundur dan menghambat tangan karya
            Menciptakan alasan berlaksa laksa
            Menjadikan dirinya sosok otoriter tanpa jiwa
            Melemahkan daya pikir yang menurut nya biasa saja
Siapakah mereka?
Tikus pengerat kah atau serigala berbulu domba?
Musuh dalam selimut kah atau Pedang bermata dua?
Jelas sekali bukan itu semua
Mereka hanya raga dengan otak namun tanpa jiwa
Tak memiliki rasa ataupun karsa
Raga raga bernyawa sok penuh wibawa

            Wahai kamu semua...
            Kaum kaum dengan citra ala ala cendikia
            Ada apa dengan pola pikir kawan semua
            Mahasiswa kah atau kaum individualis ORBA
            Hidupkan benteng benteng tak teruntuhkan kata
Sedramatis itukah ulah kawan semua?
Menabur bibit bibit kata pemecah belah
Menyemai cerita bak racun berbisa
Dan menyebarkannya dengan mereka sebagai media
Lidah tak bertulang itu pun seakan berpacu merdu
Membeberkan gosip murahan tak nyata
Mengabarkan sederet fitnah tak berperi kemanusiaan

            Sudah tak berhati kah kita teman semua?
            Sanggup mendendangkan syair syair pengusik kalbu
            Membuat resah dan keruh hati yang t’lah biru
            Menyodorkan berbait kabar yang membuat hati pilu
            Menuai kegelisahan dalam prasangka yang menderu
            Beberapa pasang mata menatapnya secara syahdu
            Namun puluhan suara berkicau nakal hingga parau
            Bisik abu dari bibir indah namun dengan hati yang tlah membatu
Beberapa dari kamu pasti tahu,
Dia tak mengucapkan berlaksa kata, hanya satu,
Katanya dia kecewa dengan semua lakumu
Tak bermaksud menghujat atau mengubur gagasan cemerlangmu
Atau menghina konsep ide briliantmu
Namun ribuan kicau palsu kau lontarkan tanpa ragu
Kau lantunkan tembang isu seakan dia pembuat rusuh
Kau bak seorang korban bercerita melukis haru
            Tak ada sikap yang mampu dia lakoni
            Duduknya bagai sesosok manusia lemah paling dibenci
            Tak mampu mengucapkan sebait kata pembela diri
            Tak sanggup menatap balik tatapan sadis para insani
            Tak kuasa melawan fitnah yang seakan siap menguliti
            Hanya air matanya yang mengalir deras tanpa henti
            Seakan bertanya dalam hati,  ”Salah apa diri ini?”

Lagi lagi dia termenung dan menyendiri
Dalam dadanya terdapat luka yang terasa nyeri
Yang sakitnya bahkan terasa pedih hingga ulu hati
Tak lekang tanyanya semakin menjadi jadi,
“Mengapa mereka mengumbar cerita penyayat hati”?
Menitikkan tetesan garam dalam luka yang kian menggerogoti
Menggoreskan pedih itu bagai tusukan sebuah belati
Beberapa kali dia mencubit diri
Tanyanya lagi,  “Apakah ini sebuah mimpi?”
            Tapi semua ternyata, nyata adanya
            Ternyata semua itu benar benar terjadi
            Mereka benar benar mengatainya,
            Mereka benar menatapnya murka
            Mereka benar menggosipinya
            Mereka benar berkata kasar atas dirinya

Wahai mahasiswa calon penerus bangsa
Segudang ego berhasil melemahkan mereka
Kaum dengan pikir pikir sekardarnya
Yang kau tindas hanya dengan secuil tingkah tanpa bertanya,
“Kan runtuh kah kepercayaan diri mereka?”
            Wahai mahasiswa mahasiswi nan bijaksana
            Berbahagialah kamu semua
            Telah mampu menjatuhkan mereka
            Kaum  yang menurutmu tidak seberapa
            Kaum  yang kau bunuh dengan sejengkal bahasa
            Kaum yang kau hancurkan dengan sebuah thema
            Katamu “Bersatu untuk Mempersatukan”
Sudah bersatu kah kamu semua?
Mahasiswa dengan otak nan briliant
Tanyamu yang jelas kuingat selalu
“Masih Mahasiswakah kita?”
Sudah puaskah kalian semua para Mahasiswa?
Telah berhasil memperkosa hak mereka
Ya, mereka yang hanya kau anggap hama kecil perusak suasana
Mereka yang dimatamu hanya setitik noda
Mereka yang mau mu harus mengikut sifat kekinian mu
            Bertindak lah semau lakumu
            Berbuatlah menurut hati nan bijakmu
            Berlaku lah sesuai tingkah individualis mu
            Bertutur katalah ala mulut bernilai intanmu
            Dan, satu lagi yang paling perlu
            Berpikirlah seperti itu selalu
            Ya, bak pikiran seekor gajah terhadap sang semut
Wahai mahasiswa luar biasa
Katamu “Bersikaplah Dewasa!”
Katamu mahasiswa tak seperti mereka
Sosok lemah yang bagimu hanya seonggok sampah
Seberkas raga yang siap kau lengserkan kapan saja
Sepotong jiwa yang harus secepatnya kau bumi hanguskan
Tertawa lah karna kau berhasil
Wahai raga yang benar benar mahasiswa!           

            Hei kamu para mahasiswa!
            Tidakkah kamu pertimbangkan dahulu
            Sebelum meremehkan otak lemah mereka
            Sebelum kau gantikan mereka dengan pribadi luar biasa
            Sebelum kau tanyakan dahulu pada jiwa tak seberapa itu
            “Setujukah mereka dengan gagasan cerdik mu?”
Hei para mahasiswa semua
Calon penguasa dengan pribadi tak tersaingi
Para penerus Christopel Columbus,James Cook atau Charles Darwin,
Isaac Newton kah atau Si Genius ,Albert Einstein
Pilihlah siapapun maumu.
Namun satu yang pasti,
Kau tak sudi jika dijuluki oleh mereka
“Sesosok pribadi gila hormat dan tahta”

                Hei kamu mahasiswa tangguh nan berkharisma
                Terimakasih telah menghancurkan pikir ala kadar mereka
                Terimakasih telah memperdayai hati mereka hingga remuk
                Terimakasih telah memaki walau dalam hati
                Terimakasih telah menyiasati secercah ide licik,
                yang ternyata mampu mengecewakan mereka
                Serta menciptakan dua sungai bening mengalir dari pelupuk mata
Bukan mendendam, tapi ku memilih bungkam
Ku hanya diam, meski dihantam fitnah kejam
Ingin ku berteriak, berontak dan membentak
Namun satu hal yang kutahu pasti,
Klarifikasi terkadang bukan solusi,
Hanya akan menjadi bola api

                Namun,
                Kini akhirnya tanya itu pun terjawab
                Mereka kabarnya mahasiswa dengan tangan dan jiwa kreatif
                Pencipta gaya modern dan seni masa kini
                Penindas pikir kuno yang katanya tak berkelas
                Yang menyelewengkan thema kesatuan berkedok kehancuran
                Terimakasih para mahasiswa inovatif
                Tetaplah dengan karya artistik kekinian dan sifat borjuis mu
                Salam Mahasiswa!!!
                Kamu semua mahasiswa yang kabarnya benar benar mahasiswa!


                                                                                Oleh: Van Bora Simatupang
                                                                                Pada :   30 Des 2015 ‘ 17.00
                                                                                                04 Jan 2016 ‘ 17.00