
Sebongkah pertanyaan terngiang dalam pikiran
Beberapa tanya yang sebenarnya masih mengambang
Pikir demi pikir terselubung melingkupi jiwa
Mengembara bebas di depan pelupuk mata
Diri ini masih asyik dengan tanya nya
Saat senja pun semakin membayang
Redup yang kian kelam menyelimuti
Dan mentari kembali ke singgasana nya
Namun tetap saja,
Diri ini masih teguh dengan tanya itu
Disaat semua keegoisan semakin membara,
menyeruak, berkobar dan bergelora
Dalam diam ku merutuk memberontak
Jelas sekali aku menahan amarah
Sadarkah mereka, bahwa itu semua ego belaka
Memukul mundur dan menghambat tangan karya
Menciptakan alasan berlaksa laksa
Menjadikan dirinya sosok otoriter tanpa jiwa
Melemahkan daya pikir yang menurut nya biasa saja
Siapakah mereka?
Tikus pengerat kah atau serigala berbulu domba?
Musuh dalam selimut kah atau Pedang bermata dua?
Jelas sekali bukan itu semua
Mereka hanya raga dengan otak namun tanpa jiwa
Tak memiliki rasa ataupun karsa
Raga raga bernyawa sok penuh wibawa
Wahai kamu semua...
Kaum kaum dengan citra ala ala cendikia
Ada apa dengan pola pikir kawan semua
Mahasiswa kah atau kaum individualis ORBA
Hidupkan benteng benteng tak teruntuhkan kata
Sedramatis itukah ulah kawan semua?
Menabur bibit bibit kata pemecah belah
Menyemai cerita bak racun berbisa
Dan menyebarkannya dengan mereka sebagai media
Lidah tak bertulang itu pun seakan berpacu merdu
Membeberkan gosip murahan tak nyata
Mengabarkan sederet fitnah tak berperi kemanusiaan
Sudah tak berhati kah kita teman semua?
Sanggup mendendangkan syair syair pengusik kalbu
Membuat resah dan keruh hati yang t’lah biru
Menyodorkan berbait kabar yang membuat hati pilu
Menuai kegelisahan dalam prasangka yang menderu
Beberapa pasang mata menatapnya secara syahdu
Namun puluhan suara berkicau nakal hingga parau
Bisik abu dari bibir indah namun dengan hati yang tlah membatu
Beberapa dari kamu pasti tahu,
Dia tak mengucapkan berlaksa kata, hanya satu,
Katanya dia kecewa dengan semua lakumu
Tak bermaksud menghujat atau mengubur gagasan cemerlangmu
Atau menghina konsep ide briliantmu
Namun ribuan kicau palsu kau lontarkan tanpa ragu
Kau lantunkan tembang isu seakan dia pembuat rusuh
Kau bak seorang korban bercerita melukis haru
Tak ada sikap yang mampu dia lakoni
Duduknya bagai sesosok manusia lemah paling dibenci
Tak mampu mengucapkan sebait kata pembela diri
Tak sanggup menatap balik tatapan sadis para insani
Tak kuasa melawan fitnah yang seakan siap menguliti
Hanya air matanya yang mengalir deras tanpa henti
Seakan bertanya dalam hati, ”Salah apa diri ini?”
Lagi lagi dia termenung dan menyendiri
Dalam dadanya terdapat luka yang terasa nyeri
Yang sakitnya bahkan terasa pedih hingga ulu hati
Tak lekang tanyanya semakin menjadi jadi,
“Mengapa mereka mengumbar cerita penyayat hati”?
Menitikkan tetesan garam dalam luka yang kian menggerogoti
Menggoreskan pedih itu bagai tusukan sebuah belati
Beberapa kali dia mencubit diri
Tanyanya lagi, “Apakah ini sebuah mimpi?”
Tapi semua ternyata, nyata adanya
Ternyata semua itu benar benar terjadi
Mereka benar benar mengatainya,
Mereka benar menatapnya murka
Mereka benar menggosipinya
Mereka benar berkata kasar atas dirinya
Beberapa tanya yang sebenarnya masih mengambang
Pikir demi pikir terselubung melingkupi jiwa
Mengembara bebas di depan pelupuk mata
Diri ini masih asyik dengan tanya nya
Saat senja pun semakin membayang
Redup yang kian kelam menyelimuti
Dan mentari kembali ke singgasana nya
Namun tetap saja,
Diri ini masih teguh dengan tanya itu
Disaat semua keegoisan semakin membara,
menyeruak, berkobar dan bergelora
Dalam diam ku merutuk memberontak
Jelas sekali aku menahan amarah
Sadarkah mereka, bahwa itu semua ego belaka
Memukul mundur dan menghambat tangan karya
Menciptakan alasan berlaksa laksa
Menjadikan dirinya sosok otoriter tanpa jiwa
Melemahkan daya pikir yang menurut nya biasa saja
Siapakah mereka?
Tikus pengerat kah atau serigala berbulu domba?
Musuh dalam selimut kah atau Pedang bermata dua?
Jelas sekali bukan itu semua
Mereka hanya raga dengan otak namun tanpa jiwa
Tak memiliki rasa ataupun karsa
Raga raga bernyawa sok penuh wibawa
Wahai kamu semua...
Kaum kaum dengan citra ala ala cendikia
Ada apa dengan pola pikir kawan semua
Mahasiswa kah atau kaum individualis ORBA
Hidupkan benteng benteng tak teruntuhkan kata
Sedramatis itukah ulah kawan semua?
Menabur bibit bibit kata pemecah belah
Menyemai cerita bak racun berbisa
Dan menyebarkannya dengan mereka sebagai media
Lidah tak bertulang itu pun seakan berpacu merdu
Membeberkan gosip murahan tak nyata
Mengabarkan sederet fitnah tak berperi kemanusiaan
Sudah tak berhati kah kita teman semua?
Sanggup mendendangkan syair syair pengusik kalbu
Membuat resah dan keruh hati yang t’lah biru
Menyodorkan berbait kabar yang membuat hati pilu
Menuai kegelisahan dalam prasangka yang menderu
Beberapa pasang mata menatapnya secara syahdu
Namun puluhan suara berkicau nakal hingga parau
Bisik abu dari bibir indah namun dengan hati yang tlah membatu
Beberapa dari kamu pasti tahu,
Dia tak mengucapkan berlaksa kata, hanya satu,
Katanya dia kecewa dengan semua lakumu
Tak bermaksud menghujat atau mengubur gagasan cemerlangmu
Atau menghina konsep ide briliantmu
Namun ribuan kicau palsu kau lontarkan tanpa ragu
Kau lantunkan tembang isu seakan dia pembuat rusuh
Kau bak seorang korban bercerita melukis haru
Tak ada sikap yang mampu dia lakoni
Duduknya bagai sesosok manusia lemah paling dibenci
Tak mampu mengucapkan sebait kata pembela diri
Tak sanggup menatap balik tatapan sadis para insani
Tak kuasa melawan fitnah yang seakan siap menguliti
Hanya air matanya yang mengalir deras tanpa henti
Seakan bertanya dalam hati, ”Salah apa diri ini?”
Lagi lagi dia termenung dan menyendiri
Dalam dadanya terdapat luka yang terasa nyeri
Yang sakitnya bahkan terasa pedih hingga ulu hati
Tak lekang tanyanya semakin menjadi jadi,
“Mengapa mereka mengumbar cerita penyayat hati”?
Menitikkan tetesan garam dalam luka yang kian menggerogoti
Menggoreskan pedih itu bagai tusukan sebuah belati
Beberapa kali dia mencubit diri
Tanyanya lagi, “Apakah ini sebuah mimpi?”
Tapi semua ternyata, nyata adanya
Ternyata semua itu benar benar terjadi
Mereka benar benar mengatainya,
Mereka benar menatapnya murka
Mereka benar menggosipinya
Mereka benar berkata kasar atas dirinya
Wahai mahasiswa calon penerus bangsa
Segudang ego berhasil melemahkan mereka
Kaum dengan pikir pikir sekardarnya
Yang kau tindas hanya dengan secuil tingkah tanpa bertanya,
“Kan runtuh kah kepercayaan diri mereka?”
Wahai mahasiswa mahasiswi nan bijaksana
Berbahagialah kamu semua
Telah mampu menjatuhkan mereka
Kaum yang menurutmu tidak seberapa
Kaum yang kau bunuh dengan sejengkal bahasa
Kaum yang kau hancurkan dengan sebuah thema
Katamu “Bersatu untuk Mempersatukan”
Sudah bersatu kah kamu semua?
Mahasiswa dengan otak nan briliant
Tanyamu yang jelas kuingat selalu
“Masih Mahasiswakah kita?”
Sudah puaskah kalian semua para Mahasiswa?
Telah berhasil memperkosa hak mereka
Ya, mereka yang hanya kau anggap hama kecil perusak suasana
Mereka yang dimatamu hanya setitik noda
Mereka yang mau mu harus mengikut sifat kekinian mu
Bertindak lah semau lakumu
Berbuatlah menurut hati nan bijakmu
Berlaku lah sesuai tingkah individualis mu
Bertutur katalah ala mulut bernilai intanmu
Dan, satu lagi yang paling perlu
Berpikirlah seperti itu selalu
Ya, bak pikiran seekor gajah terhadap sang semut
Wahai mahasiswa luar biasa
Katamu “Bersikaplah Dewasa!”
Katamu mahasiswa tak seperti mereka
Sosok lemah yang bagimu hanya seonggok sampah
Seberkas raga yang siap kau lengserkan kapan saja
Sepotong jiwa yang harus secepatnya kau bumi hanguskan
Tertawa lah karna kau berhasil
Wahai raga yang benar benar mahasiswa!
Segudang ego berhasil melemahkan mereka
Kaum dengan pikir pikir sekardarnya
Yang kau tindas hanya dengan secuil tingkah tanpa bertanya,
“Kan runtuh kah kepercayaan diri mereka?”
Wahai mahasiswa mahasiswi nan bijaksana
Berbahagialah kamu semua
Telah mampu menjatuhkan mereka
Kaum yang menurutmu tidak seberapa
Kaum yang kau bunuh dengan sejengkal bahasa
Kaum yang kau hancurkan dengan sebuah thema
Katamu “Bersatu untuk Mempersatukan”
Sudah bersatu kah kamu semua?
Mahasiswa dengan otak nan briliant
Tanyamu yang jelas kuingat selalu
“Masih Mahasiswakah kita?”
Sudah puaskah kalian semua para Mahasiswa?
Telah berhasil memperkosa hak mereka
Ya, mereka yang hanya kau anggap hama kecil perusak suasana
Mereka yang dimatamu hanya setitik noda
Mereka yang mau mu harus mengikut sifat kekinian mu
Bertindak lah semau lakumu
Berbuatlah menurut hati nan bijakmu
Berlaku lah sesuai tingkah individualis mu
Bertutur katalah ala mulut bernilai intanmu
Dan, satu lagi yang paling perlu
Berpikirlah seperti itu selalu
Ya, bak pikiran seekor gajah terhadap sang semut
Wahai mahasiswa luar biasa
Katamu “Bersikaplah Dewasa!”
Katamu mahasiswa tak seperti mereka
Sosok lemah yang bagimu hanya seonggok sampah
Seberkas raga yang siap kau lengserkan kapan saja
Sepotong jiwa yang harus secepatnya kau bumi hanguskan
Tertawa lah karna kau berhasil
Wahai raga yang benar benar mahasiswa!
Hei
kamu para mahasiswa!
Tidakkah kamu pertimbangkan dahulu
Sebelum meremehkan otak lemah mereka
Sebelum kau gantikan mereka dengan pribadi luar biasa
Sebelum kau tanyakan dahulu pada jiwa tak seberapa itu
“Setujukah mereka dengan gagasan cerdik mu?”
Hei para mahasiswa semua
Calon penguasa dengan pribadi tak tersaingi
Para penerus Christopel Columbus,James Cook atau Charles Darwin,
Isaac Newton kah atau Si Genius ,Albert Einstein
Pilihlah siapapun maumu.
Namun satu yang pasti,
Kau tak sudi jika dijuluki oleh mereka
“Sesosok pribadi gila hormat dan tahta”
Hei kamu mahasiswa tangguh nan berkharisma
Terimakasih telah menghancurkan pikir ala kadar mereka
Terimakasih telah memperdayai hati mereka hingga remuk
Terimakasih telah memaki walau dalam hati
Terimakasih telah menyiasati secercah ide licik,
yang ternyata mampu mengecewakan mereka
Serta menciptakan dua sungai bening mengalir dari pelupuk mata
Bukan mendendam, tapi ku memilih bungkam
Ku hanya diam, meski dihantam fitnah kejam
Ingin ku berteriak, berontak dan membentak
Namun satu hal yang kutahu pasti,
Klarifikasi terkadang bukan solusi,
Hanya akan menjadi bola api
Namun,
Kini akhirnya tanya itu pun terjawab
Mereka kabarnya mahasiswa dengan tangan dan jiwa kreatif
Pencipta gaya modern dan seni masa kini
Penindas pikir kuno yang katanya tak berkelas
Yang menyelewengkan thema kesatuan berkedok kehancuran
Terimakasih para mahasiswa inovatif
Tetaplah dengan karya artistik kekinian dan sifat borjuis mu
Salam Mahasiswa!!!
Kamu semua mahasiswa yang kabarnya benar benar mahasiswa!
Tidakkah kamu pertimbangkan dahulu
Sebelum meremehkan otak lemah mereka
Sebelum kau gantikan mereka dengan pribadi luar biasa
Sebelum kau tanyakan dahulu pada jiwa tak seberapa itu
“Setujukah mereka dengan gagasan cerdik mu?”
Hei para mahasiswa semua
Calon penguasa dengan pribadi tak tersaingi
Para penerus Christopel Columbus,James Cook atau Charles Darwin,
Isaac Newton kah atau Si Genius ,Albert Einstein
Pilihlah siapapun maumu.
Namun satu yang pasti,
Kau tak sudi jika dijuluki oleh mereka
“Sesosok pribadi gila hormat dan tahta”
Hei kamu mahasiswa tangguh nan berkharisma
Terimakasih telah menghancurkan pikir ala kadar mereka
Terimakasih telah memperdayai hati mereka hingga remuk
Terimakasih telah memaki walau dalam hati
Terimakasih telah menyiasati secercah ide licik,
yang ternyata mampu mengecewakan mereka
Serta menciptakan dua sungai bening mengalir dari pelupuk mata
Bukan mendendam, tapi ku memilih bungkam
Ku hanya diam, meski dihantam fitnah kejam
Ingin ku berteriak, berontak dan membentak
Namun satu hal yang kutahu pasti,
Klarifikasi terkadang bukan solusi,
Hanya akan menjadi bola api
Namun,
Kini akhirnya tanya itu pun terjawab
Mereka kabarnya mahasiswa dengan tangan dan jiwa kreatif
Pencipta gaya modern dan seni masa kini
Penindas pikir kuno yang katanya tak berkelas
Yang menyelewengkan thema kesatuan berkedok kehancuran
Terimakasih para mahasiswa inovatif
Tetaplah dengan karya artistik kekinian dan sifat borjuis mu
Salam Mahasiswa!!!
Kamu semua mahasiswa yang kabarnya benar benar mahasiswa!
Oleh:
Van Bora Simatupang
Pada : 30 Des 2015 ‘ 17.00
04 Jan 2016 ‘ 17.00
Pada : 30 Des 2015 ‘ 17.00
04 Jan 2016 ‘ 17.00